Waspadai Pembobolan Saldo ATM dengan Metode Ini!

October 05, 2017
Para hacker atau peretas database perbankan swasta tak henti-hentinya berkeliaran di bumi Indonesia kita ini. Dengan menerobos ke dalam sistem perbankan mereka menelusuri nomor-nomor rekening para nasabah yang masih aktif untuk kemudian menggandakan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) rekening hasil pencurian tersebut. Selanjutnya, bisa saja data rahasia tersebut diperjualbelikan dan digunakan untuk kejahatan-kejahatan cyber lainnya.


Mari kita ambil kasus yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada Februari tahun 2015, Bank Central Asia (BCA) melakukan investigasi internal dan melaporkan 13 rekening nasabahnya telah dibobol hingga merugi Rp 400 juta pada 13 Juli 2015. Dari hasil investigasi itu diketahui, ada pihak yang melakukan transaksi, mulai penarikan via mesin ATM, pembelian barang dengan debet, hingga penukaran valuta asing (Valas).

“Hasil investigasi BCA, kartu ATM para nasabah itu tidak pernah hilang. Tapi ada penarikan baru dengan memakai kartu ATM di nomor rekening yang sama, yang memiliki kode lain,” kata Kasubdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya AKBP Didik Sugiarto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (23/8/2015) seperti dikutip dari liputan6.

“Dari situlah kami melakukan penyelidikan berdasarkan data-data dari pihak BCA,” imbuh Didik.

Setelah mendengar paparan pihak bank, kata Didik, polisi kemudian menelusuri tempat-tempat yang pernah didatangi pelaku untuk melakukan transaksi penarikan uang dan pembelian barang. Kemudian polisi memeriksa rekaman CCTV di lokasi tersebut. Semuanya masih di wilayah DKI Jakarta.

“Saat kami periksa CCTV, terlihat beberapa pria yang kami curigai melakukan transaksi dengan kartu yang sudah di-skimming. Mereka juga menyamar setiap menggunakan ATM skimming itu. Ada yang memakai topi, ada yang memakai rambut palsu,” jelas dia.
Setelah memeriksa CCTV, lanjut Didik, polisi menyimpulkan ada 5 orang yang aktif menggunakan kartu ATM skimming tersebut dan pengejaran terhadap para penjahat itu berakhir pada 8 Agustus lalu. 2 Dari mereka adalah mantan narapidana.

Hasil pemeriksaan penyidik, 5 tersangka hanya sekedar membeli kartu ATM skimming dari 3 website seharga 300  Dollar hingga 700 Dollar.
“Mereka beli dari 3 website itu. Harga 1 kartu US$ 300 sampai US$ 700,” ujar Didik.
Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Teuku Arsya Khadafi menjelaskan, para pelaku membeli kartu skimming melalui 3 laman internet. Pengakuan para tersangka, mereka hanya membeli kartu ATM skimming tanpa mengetahui berapa nominal uang dalam nomor rekening kartu ATM tersebut.
Namun, menurut Arsya, para peretas yang menjual kartu ATM tersebut menjamin nomor rekening yang terkoneksi dengan ATM skimming tersebut masih aktif digunakan para pemilik aslinya.

“Jadi dalam kasus ATM skimming ini ada 2 kelompok yang beraksi. Pertama kelompok hacker yang menjual kartu skimming. Kedua, kelompok tersangka yang sudah kita ringkus, sebagai penadah atau pembeli kartu ATM skimming ini dengan tujuan menguras uang dalam ATM nasabah,” ungkap dia.

Tak hanya BCA, polisi juga mengamankan kartu ATM skimming yang dibeli 5 tersangka
dari kelompok peretas. Antara lain 5 kartu ATM HSBC, 4 kartu ATM Bank Danamon, 2 kartu ATM Citibank, 2 kartu ATM Bank OCBC NISP dan masing-masing 1 kartu ATM Bank Panin, Bank BII, Standard Chartered, dan CIMB Niaga.


Share this

Lahir di Padang, Sumatera Barat pada akhir tahun 1993, blogger rupawan ini lebih dikenal dengan nickname hideatsa. Memiliki kredibilitas yang mumpuni dalam bidang copy-paste. Meskipun tampan, ia juga baik hati dan tidak sombong.

Related Posts